revolusi industri 4.0

All About Revolusi Industri 4.0

3 days ago by Jane Doe

Ketika kita berbicara revolusi industri 4.0, tentunya kita tidak bisa melihat revolusi industri 4.0 saja. Kita harus melihat revolusi-revolusi yang telah terjadi sebelumnya.

Sejarah Revolusi Industri

Revolusi Industri 1.0

Di tahun 1764 adalah periode pertama atau revolusi industri pertama. Di sini terjadi penemuan mesin uap dan pada saat itu, industri, terutama di Inggris menjadi jauh lebih efisien dan skalanya jauh lebih masif.

Ini juga kemudian merevolusi sebuah proses produksi bukan hanya di Inggris, tapi juga melebar ke Eropa.

Di mana kita kenal sekarang Inggris dan mayoritas negara-negara Eropa sebagai negara maju karena mereka memang yang pertama kali menggunakan secara masif mesin uap dan menjadi titik awal bagi industri dunia.

Revolusi Industri 2.0

Kemudian pada tahun 1870 adalah revolusi industri 2.0. Ini terjadi karena ada penemuan baru, yaitu cahaya listrik. Dari listrik dan cahaya ini pada akhirnya membuatnya berbeda dengan apa yang terjadi pada periode-periode sebelumnya, terutama periode setelah 1764, yaitu setelah ditemukannya mesin uap.

Sekarang proses produksi sekali lagi menjadi jauh lebih efisien jauh lebih efektif dengan skala yang jauh lebih masif. Di sini juga Adam Smith sebagai Bapak Ilmu Ekonomi mengeluarkan bukunya, yaitu The Wealth of Nations di periode revolusi industri ke-2.

Nah, di revolusi industri ke-2 ini Adam Smith juga kemudian mengemukakan sebuah teori spesialisasi produksi yang mana ini juga terilhami oleh sebuah masifnya proses produksi yang jauh lebih masif jauh lebih efisien dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Revolusi Industri 3.0

Pada tahun 1969 penggunaan komputer superkomputer ini yang kemudian diawali oleh Amerika. Ini menjadi periode baru bagi revolusi industri, yaitu revolusi industri 3.0.

Di revolusi industri 3.0 ini kita bisa melihat betapa kemudian penggunaan komputer, penggunaan teknologi-teknologi yang jauh lebih canggih dibandingkan dengan sebelumnya.

Sekali lagi, merevolusi industri di dunia secara keseluruhan ini titik awal bagi kemudian produksi yang jauh, jauh lebih masif jauh, jauh lebih ekonomis.

Revolusi Industri 4.0

Kemudian dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama tidak lebih dari seratus tahun, pada tahun 2016, di World Economy di Davos mentasbihkan tahun itu tahun 2016 sebagai revolusi industri 4.0.

Revolusi industri 4.0 ini sebenarnya adalah sebuah pengembangan lebih lanjut dari apa yang telah terjadi di revolusi industri ke-3.

Revolusi industri ke-3, komputer, teknologi di sini ketika revolusi industri 4.0 kita berbicara juga penggunaan teknologi, tapi jauh lebih high tech.

Yaitu penggunaan teknologi digital. Apa yang biasa kita sebut sebagai digitally in adult industrial revolution. Nah, di sini kita bisa melihat perkembangan e-commerce, disini juga kita melihat perkembangan IoT atau Internet of Things yang melandasi perkembangan industri sekali lagi jauh lebih masif, jauh lebih efisien dan menggunakan tenaga kerja dan faktor produksi jauh lebih sedikit dan menghasilkan output yang jauh lebih banyak.

Intinya, ketika kita bicara mengenai revolusi industri merujuk pada proses atau teori schumpeterian “Innovation is a process of creative destruction”, artinya sebuah inovasi ini menggantikan yang lama yang mana yang baru ini jauh lebih efisien tetapi tentunya ada yang digantikan

Bagaimana cost dan benefitnya?

Nah, ini yang seharusnya bisa kita lihat, tapi secara umum kita bisa melihat bahwa inovasi yang kemudian me-latar belakangi revolusi industri membuat segala sesuatunya jauh lebih mudah jauh lebih baik adalah incumbent atau perusahaan-perusahaan yang selama ini menggunakan teknologi-teknologi lama yang kemudian harus beradaptasi berhadapan dengan new entrance atau pendatang-pendatang baru.

Dalam revolusi industri 4.0 segala sesuatunya tentunya berubah, apa saja? kita bisa melihat penggunaan secara masif e-commerce.

Kita melihat penggunaan internet of things, kita bahkan bisa melihat sekarang toko tanpa kasir. Nah, ini semua adalah sebuah indikator-indikator baru sebuah hal yang sebelumnya belum pernah kita saksikan.

Kalau kita melihat tren dari e-commerce sampai tahun 2020, dibandingkan dengan tahun 2014, tahun 2014 tren e-commerce dunia hanya sekitar 2 triliun USD tapi ditahun 2020 itu bisa mencapai 7 triliun USD, artinya berkembang beberapa kali lipat dari awal e-commerce itu diperkenalkan. Apalagi di tahun 2016 teknologi digital digunakan secara lebih masif.

Yang kedua, kalau kita melihat juga perkembangan dari sosial media, social media more or less sama. Di tahun 2014 datanya menyebutkan bahwa sekitar 2 triliun USD transaksinya tapi di tahun 2020, again, 7 triliun USD tapi e-commerce dan sosial media saja sebenarnya bukan apa-apa.

Ada satu tren lagi yang sebenarnya jauh lebih masif jauh lebih shopisticated dan jauh lebih besar dampaknya yaitu Internet of Things.

Internet of Things ini jika melihat di kondisi awalnya sekitar 2-3 triliun USD, pada tahun 2020 itu bisa mencapai 14 triliun USD.

Bahkan angka ini cenderung under estimasi dari angka yang seharusnya jauh lebih besar dibandingkan dengan itu.

Apa itu Internet of Things?

Internet of Things adalah ketika anda punya gelas, gelas anda dengan gelas teman anda itu saling twitter-an. Nah itu Internet of Things.

Kita sudah melihat kemudian tren di Silicon Valley betapa, kemudian ada smart fridges. Ketika kulkasnya isinya kosong, dia bisa memesannya sendiri ke Amazon.

Dan kemudian diantarkan oleh drone tanpa harus menyewa asisten rumah tangga. Nah, tren-tren seperti ini akan berlanjut di kemudian hari.

Apalagi kalo kita bisa melihat kemarin, Sophia, robot android pertama yang diberikan kewarganegaraan oleh Saudi Arabia.

Robot android, coba anda bayangkan semua robot android diberikan kewarganegaraan. Kenapa? Karena dia bisa berpikir, dia bisa bergerak, dia bisa melakukan segala sesuatunya sama seperti manusia.

Mungkin pada akhirnya akan menggantikan fungsi kemanusiaan. Bahkan di Osaka University ada sebuah penelitian, ada lab di mana robot android itu menggantikan dosennya mengajar.

Nah, di kemudian hari bisa jadi profesi dosen menjadi tidak relevan. Bisa jadi kampus menjadi tidak relevan. Bisa jadi profesi-profesi yang kita jalankan sekarang akan menjadi tidak relevan.

Mark Zuckerberg vs Elon Musk

Kemudian debat antara dua pesohor dunia, Mark Zuckerberg dan Elon Musk. Mereka ini mengomentari sebuah hal yang sangat krusial Artificial Intelligence.

Menurut Elon Musk, artificial intelligence ini merupakan sebuah hal yang akan menggantikan kemanusiaan maka harus di-stop.

Maka Elon Musk dan perusahaannya yang sebelumnya dia juga mengembangkan proses artificial intelligence ini, teknologi artifisial intelligence, harus di-hold.

Karena dia takut bahwa ini pada akhirnya akan menggantikan fungsi kemanusiaan. Sementara Zuckerberg, yang punya Facebook, dia bilang “yang paling penting adalah man behind the gun” yang paling penting adalah orang yang menggunakannya.

Pada akhirnya humanity takkan bisa digantikan oleh apapun. Entah itu artificial intelligence, entah itu hal yang lain.

Ada juga sebuah ceramah di University of California, San Diego. Oren Etzioni, seorang CEO dari artificial intelligence, yang kemudian meyakinkan kita bahwa pada akhirnya yang paling penting adalah manusianya, bukan teknologinya. Semakin tinggi rasionya, berarti perekonomian menjadi semakin tidak efisien.

ICOR Indonesia berada di atas 6. Filipina, Vietnam, bahkan cuma 4 atau 5. Mereka jauh lebih efisien.

Jangankan dengan Thailand dan Malaysia, dengan Vietnam dan Philippines saja, kita sudah ketinggalan. Semakin tinggi rasionya Berarti perekonomian menjadi semakin tidak efisien.

Industri yang paling berpengaruh terhadap proses revolusi industri yang keempat ini adalah industri-industri yang terkait dengan teknologi digital.

Akan tapi sekali lagi ketika kita berbicara teknologinya, teknologi ini adalah supporting system pada keseluruhan industri. Kita bicara mengenai industri manufaktur, pariwisata, pertfilman, dan lain-lain.

Pada intinya ini semua membuat the whole package (keseluruhan paket) dari industri, menjadi jauh lebih efisien. Nah itulah mengapa kita menamakannya revolusi industri.

Langkah yang harus diambil di era Revolusi Industri 4.0

Yang pertama, penggunaan tenaga kerja. Penggunaan tenaga kerja akan menjadi sangat minimal. Akan sangat sedikit, Karena semuanya bergantung pada teknologi.

Hari ini kita menyaksikan betapa Indonesia sebenarnya sedang mengalami proses deindustrialisasi. Kalau kita membandingkan data kontribusi sektor manufaktur terhadap GDP pada tahun 2001 itu 29%.

Rule of thumb-nya, untuk menjadi negara industri setidak-tidaknya kita mebutuhkan kontribusi dari sektor industri sekitar 30-an%, di atas tiga puluh persen. Kita hampir mencapai itu.

Tapi setalah krisis finansial di tahun 1998, sepertinya kita cukup mengabaikan proses industrialisasi ini. Setidaknya ini kita lihat dari angka yang bisa kita lihat sekarang kontribusi sektor industri atau manufaktur terhadap GDP sekarang tinggal 20%.

Artinya terjadi proses deindustrialisasi di Indonesia. Oleh karenanya pada tahun 2018 di bulan April, Kementrian Perindustrian, programnya pak Airlangga Hartarto, Itu sudah membuat peta jalan (road map) Menuju Indonesia Industri 4.0.

Bagaimana kita bisa mencapai itu?

Salah satunya adalah dengan penggunaan masif teknologi digital. Supaya kontribusi sektor manufaktur menjadi lebih signifikan.

Di mana pada saat ini kita mengalami pertumbuhan ekonomi yang, sebenarnya cukup tertahan, sekitar lima persen Ini dibandingkan dengan negara-negara ASEAN yang lain tentunya bukan hal yang terlalu menggembirakan. Kita bisa melihat Vietnam, Filipina, yang tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan kita.

Salah satunya yang harus diperbaiki adalah efektifitas dan efisiensi. Ini kita bisa lihat dalam sebuah indikator yang dinamakan Incremental Capital Output Ratio atau yang biasa disingkat ICOR.

Dari ICOR ini semakin tinggi rasionya berarti perekonomian menjadi semakin tidak efisien. Indonesia ICOR-nya berada di atas 6. Filipina, Vietnam, bahkan cuma 4 atau 5. Mereka jauh lebih efisien.

Jangankan dengan Thailand, Malaysia, dengan Vietnam & Filipina saja kita sudah ketinggalan. Ini juga merujuk kepada hasil penelitian di tahun 2017, bahwa secara ranking, dalam rantai produksi global, Indonesia ketinggalan.

Nah, makanya kita harus segera mengejar. Salah satunya adalah dengan cara memasifkan penggunaan teknologi ini.

Tetapi kita juga harus paham, bahwa penggunaan teknologi penggunaan inovasi yang baru akan memunculkan korban. Nah itulah yang kemudian harus di mitigasi.

"Korban" di era Revolusi Industri 4.0

Fintech ini sekarang di revolusi industri 4.0 dilakukan oleh pemain-pemain di luar industri keuangan. Nah, ini pula yang kemudian membuat khawatir para pelaku bisnis industri keuangan karena ketika terjadi distrupsi di industri keuangan dampaknya akan sangat katastropik.

Pada tahun 2015, Ada sebuah artikel dengan judul "Uber and Go-Jek just the start of disruptive innovation in Indonesia" which is kita berbicara mengenai revolusi 4.0.

Pada tahun 2017, ada artikel yanag judulnya adalah kurang lebih mengenai peraturan bahwa Uber dan Gojek kemudian didemonstrasi, diprotes oleh supir-supir taksi konvensional.

Artinya apa? Ada korbannya. Incumbent atau pemain-pemain lama merasa terganggu dengan masuknya pemain-pemain baru.

Meskipun kalau kita ukur secara keseluruhan total effect, total welfare effect atau faktor kesejahteraan, secara total kita bisa melihat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya, tetapi tetap saja ada korbannya.

Awalnya kita bicara mengenai supir taksi tadi yang berdemonstrasi yang merasa pendapatannya tergerus karena adanya pemain-pemain baru ini bluebird versus online transportation.

Ada yang kemudian sebuah hal yang agak kontraproduktif. Mereka kemudian mendesak pemerintah untuk membuat regulasi yang pada akhirnya membatasi pelaku-pelaku inovasi ini.

Awalnya pemerintah sepertinya akan menjalankan itu, tetapi untungnya Presiden Jokowi yang memiliki visi inovasi karena beliau sendiri merupakan seorang pengusaha.

Dia kemudian menghambat atau kemudian melarang kementerian untuk melanjutkan regulasi yang menghambat ini.

Nah, ini sebuah hal yang menggembirakan betapa dari pucuk pimpinan tertinggi Indonesia sudah paham betapa pentingnya inovasi untuk perkembangan Indonesia dan dalam perkembangannya kita melihat ternyata Bluebird sekarang sudah join dengan Gojek Go-Car sekarang ada Go-Bluebird.

Ini merupakan kolaborasi dan ini pula yang kemudian terjadi di awal-awal proses adanya Uber di San Francisco. Sekarang banyak perusahaan-perusahaan taksi konvensional yang juga sudah bergabung dengan Uber.

Ini secara terminologi teknis Uberification “if you cant not beat them, then you join them.” Ini pula yang kemudian dipresentasikan ke dalam sebuah modeling matematika ekonomi di University California, San Diego.

Bagaimana kemudian incumbent ini pada akhirnya bisa berkolaborasi dengan new entrance. New entrance ini merupakan pemain-pemain baru yang paling diuntungkan dengan adanya teknologi ini.

Secara umum kalo kita bicara mengenai teori dalam mikro ekonomi yang namanya incumbent. Pemain lama pastinya akan memliki kekuatan monopoli yang mana dengan kekuataan monopoli ini akan menghalangi, menghalang-halangi pemain-pemain baru untuk masuk.

Teori tradisionalnya, kita bisa melihat betapa sekarang new entrance itu bisa menganggu keseimbangan bisa menggangu para incumbent dengan modal yang kecil berbekal inovasi dan teknologi mereka bisa merangsek ke market yang selama ini dinikmati oleh para incumbent.

Oleh karenanya inilah yang disebut oleh Clayton Christensen professor dari Harvard Business School sebagai disruptive innovation.

Dia menggangu keseimbangan yang ada disruptive innovation dari low end market into high end market. Dia menggangu keseimbangan pemain-pemain lama.

Ini yang disebut juga oleh Andrew Grove, professor dari Standford Business School sebagai inflection point.

Pada intinya, mereka membicarakan hal yang sama yaitu sebuah proses inovasi yang menggantikan pemain-pemain lama tapi pada perkembangannya, baik dari model yang sedang kami kembangkan dalam model penelitian kami, juga apa yang telah terjadi di dunia pada saat ini.

Yang terjadi adalah adanya kolaborasi antara pemain lama dengan pemain baru sehingga pada akhirnya pemain-pemain lama ini bisa mengkapitalisasi teknologi dengan bantuan pemain-pemain baru.

Ini tidak hanya terjadi di industri spesifik transportasi, tapi juga melebar ke industri-industri yang lain.

Kita juga bisa bicara mengenai industri keuangan, ada fintech atau financial technology ini sebuah barang yang bukan barang baru ini sebuah barang lama akan tetapi, fintech ini sekarang di revolusi industri 4.0 dilakukan oleh pemain-pemain di luar industri keuangan.

Nah, ini pula yang kemudian membuat khawatir para pelaku bisnis industri keuangan karena ketika terjadi distrupsi di industri keuangan dampaknya akan sangat katastropik.

Oleh karenanya sekarang sudah ada kolaborasi-kolaborasi juga dengan pemain fintech baru antara industri keuangan dengan fintech-fintech startup yang baru ini.

Ada asosiasinya, ada regulasi yang kemudian bisa menampung semuanya. Dengan adanya keberadaan fintech ini bahkan bisa membantu orang-orang kecil dengan financial inclusion sekarang jauh lebih inklusif.

Orang bisa mengakses pembiayaan jauh lebih inklusif jauh lebih dekat dengan mereka. Selama ini mungkin industri perbankan atau industri keuangan terkesan jauh sekali dengan pemain-pemain kecil, tapi dengan adanya fintech dengan adanya pemain-pemain baru di startup-startup ini bahkan industri-industri kecil sekarang industri-industri UMKM bisa lebih berdaya.

Salah satunya ketika kita bicara mengenai perkembangan lebih lanjut dari Gojek ada Go-Pay sekarang bahkan tukang-tukang baso itu bisa membuat bekerjasama dengan Gojek ada QR code, sehingga pelanggannya tidak mesti bawa uang hanya berbekal QR code bisa saling bertransaksi.

Apa keuntungannya? Mereka kemudian bisa melakukan konsolidasi keuangan pencatatan keuangan jauh lebih rapi dengan bantuan fintech ini.

Pada awalnya ketika kita bicara revolusi industri ini, ini kan diawali dari negara-negara Eropa yang mana mereka sebenarnya kondisi awalnya adalah kekurangan tenaga kerja.

Memang, ketika kita berbicara mengenai industri 4.0, atau revolusi industri 4.0 Kita berbicara mengenai efisiensi.

Pada awalnya, ketika kita berbicara Revolusi industri ini, ini kan diawali dari negara-negara Eropa. Yang mana mereka sebenarnya kondisi awalnya adalah kekurangan tenaga kerja.

Sehingga mereka berusaha untuk mengakali ini, dengan penggunaan teknologi sebenarnya untuk indonesia, ini 50:50.

Bisa jadi penggunaan teknologi secara masif, akan mengurangi partisipasi tenaga kerja dalam industri. Artinya, Mungkin saja akan ada pengangguran.

Apalagi kalo kita berbicara produktivitas rata-rata orang Indonesia, menurut sebuah penelitian, dari tahun 2007, sampai sekarang itu relatif stagnan.

Ada penelitian dari Chris Manning dari Australian National University. Cenderung stagnan tetapi upahnya naik terus.

Inilah yang kemudian membuat secara relatif, ongkos produksi di indonesia meningkat. Dan ini yang pada akhirnya membuat beberapa investor mengalihkan investasinya tidak ke indonesia tapi, ke Myanmar, tapi ke Vietnam.

Yang mana secara relatif, ongkos produksinya jauh lebih murah. Ini kan berarti ada masalah, ada masalah dari sisi produktivitas. Ada masalah dari sisi kapasitas tenaga kerja. Butuh intervensi pemerintah tentunya tapi sebenarnya ada jalannya.

Jalannya adalah dengan menggunakan, All Out Attack. Atau dalam sepakbola kita menyebutnya Total Football. Apa yang di peragakan oleh Timnas Belanda di tahun 1980 dengan Johan Cruijff.

Kita bisa lihat All Out Attack segala lini, semua lini itu bekerja.

Quadruple Helix

Ada empat quadruple helix.
1. Industri atau pelaku (private sector, bisnis)
2. University (kampus)
3. Government (pemerintahnya)
4. Community (komunitas)

Ini harus saling terkait antara satu dengan lain. Contohnya,ada satu start-up yang sangat menarik. Di Universitas Indonesia Di Depok, iGrow.

iGrow menurut Financial Times disebut sebagai FarmVille in reallity. Apabila Anda tahu (game) FarmVille, Anda tinggal meng-klik beberapa lahan, dan kemudian anda ingin menanam apa, dan kemudian anda mendapatkan return dari situ. Ada platformnya.

Tapi yang membuatnya menarik adalah bukan platformnya itu sendiri, yang saya ingin lihat, dan menurut beberapa penelitian, dengan iGrow, bahwa iGrow ini ada spillover effect terhadap pekerjanya.

Kalau kita lihat tadi data bahwa pekerja kita adalah sangat tidak produktif, sebagian besar dari tenaga kerja kita berada di sektor informal, sebagian besar dari tenaga kerja kita berada pada level SMA ke bawah, ini sangat terbatas kemampuannya.

Tetapi ketika tim dari Universitas indonesia daan juga UNSW (University of New South Wales), melakukan penelitian, salah satunya adalah iGrow ini, mereka kunjungan ke lapangan, melihat petani-petani itu yang hanya lulusan SD.

Coba Anda bayangkan, lulusan SD di zaman sekarang ini mau jadi apa? Mau kerja dimana? Petani petani yang lulusan SD ini, yang bahkan cuma bisa baca tulis, mereka diberdayakan oleh iGrow.

Mereka menjadi street scientist. Apa yang mereka lakukan? Mereka memformulasikan sebuah campuran ideal untuk membuat pupuk organik yang mana mungkin saja seorang sarjana pertanian memiliki kesulitan untuk melakukan itu.

Tapi, petani-petani lulusan SD ini, bisa melakukan itu. Mereka menjadi street scientist oleh karenanya, ini adalah percepatan yang dimaksud memperdayakan community yang pada akhirnya kita kemudian bisa mendapatkan keuntungan ketika tahun 2025, tahun 2030 nanti, periode windows of opportunity.

Periode di mana pada saat itu usia rata rata pekerja Indonesia berada pada peak-nya. Usia 15 sampai 64 tahun, Ini windows of opportunity.

Usia 15 sampai 64 tahun berada pada tingkat yang optimal. Yang seharunya ini bisa dimanfaatkan oleh industri. Jepang, China, dan negara negara maju lainnya, itu sudah memanfaatkan ini.

Tinggal bagaimana kita. Apakah kemudian momentum itu, akan lewat? Atau bisa kita manfaatkan?

Di era seperti sekarang kalau kita tidak bergabung, kita akan mati. Pada akhirnya kita berbicara mengenai kolaborasi. yang mana ini sebuah faktor yang sangat penting. Yang bisa kemudian menyatukan segala elemen bangsa.

Revolusi industri 4.0 ini seperti pedang bermata dua: apakah kita bisa memanfaatkannya, apakah ini akan menjadi sebuah hal yang sangat-sangat menghambat.

Nah, kita bisa lihat pada awalnya, perkembangan inovasi yang sebagai contohnya Uber dan Gojek tadi, itu mengalami tantangan yang teramat sangat besar. Karena pelaku-pelaku lama itu merasa terganggu dengan pelaku-pelaku yang baru new entrance VS incumbent.

Memang sejatinya pemain-pemain lama akan ingin selalu mempertahankan ceruk pasarnya yang besar. Ingin selalu mempertahankan daya monopolinya yang mencengkram.

Ini yang kemudian mereka selalu pertahankan apabila ada gangguan tentunya mereka berusaha untuk mengenyahkan gangguan itu.

Itu yang akan terjadi ketika awal-awal kita bicara mengenai yang sering dibicarakan pada saaat itu adalah mengenai pertentangan antara taksi konvensional dengan online transportation, nah ini awalnya. Tapi sebagaimana yang kita tahu sekarang mereka berkolaborasi

Pada akhirnya kita berbicara mengenai kolaborasi yang mana ini sebuah faktor yang sangat penting yang bisa kemudian menyatukan segala-gala elemen bangsa tadi yang seharusnya bermanfaat untuk kemajuan bangsa.

Alih-alih bertengkar, kita berkolaborasi, nah inilah yang kemudian terjadi sekarang SDM indonesia untuk menghadapi revolusi industri 4.0 tentunya harus segera berbenah, karena apa?

Ketika anda tidak berbenah maka, anda akan ketinggalan. Tetapi disini bukan hanya PR kita. Ini juga PR pemerintah, industri, juga community atau apa yang disebut sebagai quadruple helix.

Sebagai contoh dari Sabang sampai Merauke kita melihat total staf yang ditempatkan pada balai latihan kerja itu cuma 1.200 orang.

Coba bandingkan dengan Jerman, mereka punya 133.000 orang yang ditempatkan sebagai staf untuk balai latihan kerja.

Masalah kurikulum juga harus segera dibenahi. Bagaimana kurikulum kita tercerabut dari kepentingan industri.

Kurikulum dengan industri jelas berbeda. Sebagai contoh kalo kita lihat mayoritas penghuni BLK adalah lulusan SMK.

Apa yang terjadi di SMK ini, apa yang diajarkan oleh SMK kepada murid-muridnya? Kenapa mereka penghuni paling banyak di BLK?

Padahal mereka seharusnya, orang-orang yang dipersiapkan langsung bisa compatible dengan kebutuhan industri.

Kita bisa melihat Taiwan, betapa kemudian industrinya terkoneksi dengan sistem pendidikan. Kita juga bisa melihat Korea.

Kita juga bisa melihat negara-negara maju yang lainnya yang mana kurikulum dan industrinya sangat terkoneksi.

Sehingga kepentingan industri akan sangat didukung oleh kemajuan kurikulum, pemberdayaan mahasiswa, pemberdayaan politeknik, pemberdayaan SMK.

Sayangnya kita disini melihat SMK, politeknik, sebagai warga negara kelas 2. Semuanya berbondong-bondong masuk universitas.

Padahal kalau kita lihat di Jerman, di Perancis, lulusan politeknik adalah lulusan-lulusan elit yang setara dengan universitas.

Paradigma ini yang harus diubah. Bagaimana orang-orang itu harus segera compatible dengan kebutuhan industri.

Kalau kita melihat di indonesia, kita bisa melihat lulusan Universitas Indonesia bukan orang-orang yang siap kerja.

Tapi siap di-training lagi. Bukan siap kerja, tapi siap di-training lagi. Ini kan betapa waste of money bagi perusahaan-perusahaan itu.

Menghambur-hamburkan uang untuk kemudian melakukan pelatihan-pelatihan yang seharusnya ini diberikan level universitas.

Begitu juga dengan kita bicara mengenai pemberdayaan komunitas yang selama ini abai dilakukan.

Nah, maka ketika kita berbicara tadi quadruple helix (industri, kampus, community, dan pemerintah) saling berkolaborasi.

Dengan demikiankita bisa kemudian memanfaatkan bisa me-mainstream kita bisa berselancar dengan ombak besar Revolusi Industri 4.0.